Pada hari Rabu, tanggal 6 Mei 2026, telah dilaksanakan kegiatan CEO Talk Business Series yang bertempat di SEBI Hall, Institut SEBI. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya pengembangan wawasan dan peningkatan literasi bisnis bagi mahasiswa serta peserta yang hadir, khususnya dalam bidang manajemen keuangan dan strategi pengembangan usaha.
Acara menghadirkan narasumber utama, yaitu H. Agung Yulianto, S.E., Ak., M.Kom., selaku Direktur Utama HNI. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan materi bertema “Smart Financial Strategies for Survival and Growth”, yang membahas strategi keuangan cerdas agar bisnis mampu bertahan, berkembang, dan tetap sehat di tengah tantangan dunia usaha yang dinamis.
Pada awal penyampaian materi, narasumber menekankan bahwa kepercayaan merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan bisnis. Beliau menjelaskan konsep:
Trust = (Integrity + Capacity) × System
Menurut beliau, kepercayaan dalam bisnis dibangun melalui integritas, kapasitas, dan sistem kerja yang baik. Tanpa adanya kepercayaan, hubungan bisnis tidak akan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Selanjutnya, narasumber menjelaskan bahwa indikator utama bisnis yang sehat bukan hanya terletak pada besarnya omzet ataupun keuntungan, melainkan pada kondisi keuangan dan arus kas (cashflow) yang stabil. Beliau menyampaikan bahwa banyak bisnis mengalami kegagalan bukan karena tidak memperoleh keuntungan, tetapi karena kehabisan uang tunai di tengah operasional usaha. Profit belum tentu menjadi uang yang siap digunakan, sebab keuntungan dapat tertahan dalam bentuk piutang maupun persediaan barang (inventory).
Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa semakin besar skala bisnis, maka risiko yang ditimbulkan akibat terganggunya cashflow juga akan semakin besar. Oleh karena itu, bisnis yang sehat adalah bisnis yang memiliki arus kas positif, yaitu ketika pemasukan berjalan cepat, pengeluaran terkontrol, dan selisih antara keduanya tetap berada pada kondisi yang baik.
Narasumber juga menyoroti pentingnya memahami struktur biaya (cost structure) dalam menjalankan usaha. Biaya bisnis dijelaskan terbagi menjadi dua jenis, yaitu fixed cost (biaya tetap) dan variable cost (biaya variabel). Beliau mengingatkan agar pelaku usaha, khususnya pengusaha pemula, tidak terburu-buru memperbesar fixed cost, seperti menyewa tempat usaha yang besar atau merekrut banyak karyawan sebelum kondisi usaha benar-benar stabil. Kesalahan dalam memahami struktur biaya menjadi salah satu penyebab utama kegagalan bisnis.
Selain itu, dibahas pula mengenai capital expenditure (capex), yaitu pengeluaran untuk pembelian aset usaha. Menurut beliau, banyak pelaku usaha baru terlalu cepat membeli aset atau mesin produksi tanpa melakukan pengujian pasar terlebih dahulu. Sebagai contoh, di HNI sendiri, produk baru tidak langsung diproduksi menggunakan fasilitas sendiri, melainkan bekerja sama dengan perusahaan lain terlebih dahulu hingga produk terbukti berhasil di pasar. Setelah usaha berjalan stabil dan likuiditas terjaga, barulah investasi aset dilakukan secara bertahap.
Beliau juga menjelaskan bahwa tidak semua aset bersifat produktif. Tanah, bangunan, maupun deposito belum tentu menghasilkan arus kas yang baik apabila tidak dimanfaatkan secara tepat. Oleh sebab itu, pelaku usaha harus mampu membedakan antara aset yang benar-benar mendukung pertumbuhan bisnis dengan aset yang justru menjadi beban keuangan.
Pada sesi berikutnya, narasumber memperkenalkan konsep agile business, yaitu model bisnis yang lincah, adaptif, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Beliau menekankan bahwa pelaku usaha tidak harus selalu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan mampu beradaptasi dan melakukan perbaikan secara bertahap (iterate). Fokus utama bisnis pada tahap awal adalah mampu bertahan hidup (survive), kemudian berkembang lebih besar (thrive) setelah kondisi cashflow benar-benar aman.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan pentingnya fokus pada core business, menghindari fixed cost yang berlebihan, menekan pengeluaran capex, serta menjaga keuntungan dan arus kas tetap sehat. Menurut beliau, organisasi yang sederhana, fleksibel, dan lincah akan lebih mudah bertahan dibanding organisasi dengan struktur biaya yang berat dan tidak adaptif terhadap perubahan.
Pada bagian akhir materi, narasumber membahas pentingnya memahami leverage dalam dunia usaha. Beliau menjelaskan bahwa leverage bukan hanya berkaitan dengan modal, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan dan bekerja sama dengan orang lain. Seseorang yang tidak memahami leverage akan terus menukar waktu dengan uang tanpa mampu mengembangkan usahanya secara optimal. Oleh karena itu, membangun bisnis besar tidak cukup hanya dengan kerja keras, tetapi juga membutuhkan kerja cerdas dan kemampuan membangun sistem yang baik.
Selain menyampaikan strategi bisnis, narasumber juga menguraikan beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan pengusaha pemula, di antaranya:
- Terlalu fokus mengejar omzet tanpa memperhatikan profit dan cashflow;
- Tidak melakukan pencatatan keuangan dengan baik serta mencampur uang pribadi dengan uang bisnis;
- Mengutamakan gaya hidup sebelum usaha benar-benar stabil;
- Tidak memiliki mentor maupun lingkungan bisnis yang mendukung; dan
- Takut memulai usaha dari skala kecil serta ingin langsung berkembang besar.
Sebagai penutup, beliau menyampaikan bahwa seluruh bisnis besar pada dasarnya dimulai dari langkah kecil. Menjadi pengusaha bukan sekadar memiliki usaha, tetapi juga tentang cara berpikir, cara hidup, dan kemampuan mengelola diri dengan baik. Oleh sebab itu, bisnis yang kuat harus dimulai dari pola pikir yang benar dan pengelolaan keuangan yang sehat.
Demikian berita acara kegiatan ini dibuat sebagai dokumentasi resmi atas pelaksanaan kegiatan CEO Talk Business Series di Institut SEBI.
Depok, 6 Mei 2026

