SebiSocialFund.org

Sahur Bukan Sekadar Makan: Ini Tuntunan Nabi yang Perlu Dihidupkan

1. Melaksanakan sahur meskipun hanya sedikit

Walaupun hanya seteguk air, tetap bernilai ibadah dan penuh keberkahan.

Dalil:

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”
(HR. Bukhari no. 1922 dan Muslim no. 1095)

2. Mengakhirkan waktu sahur

Disunnahkan mendekati waktu fajar, selama tidak melewati batas masuknya Subuh.

Dalil:

Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَاانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau berdiri untuk shalat.”
Ditanya: “Berapa jarak antara azan dan sahur?”
Ia menjawab: “Sekitar bacaan lima puluh ayat.”
(HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097)

Ini menunjukkan bahwa sahur dilakukan mendekati waktu Subuh, bukan terlalu awal tanpa kebutuhan.

3. Mengonsumsi tamr (kurma kering)

Sebagai makanan yang dianjurkan Nabi ﷺ saat sahur.

Dalil:

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ ‏”‏ ‏

“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr (kurma kering).”
(HR. Abu Dawud no. 2356, disahihkan Al-Albani)

4. Berniat dan menghadirkan kesadaran ibadah

Sahur bukan sekadar makan, tetapi bagian dari sunnah dan ketaatan.

Dalil:

Sabda Nabi ﷺ:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Karena sahur adalah amalan sunnah, maka menghadirkan niat ibadah menjadikannya bernilai pahala.

5. Memperbanyak istighfar di waktu sahur

Karena waktu ini termasuk waktu mustajab untuk memohon ampunan.

Dalil: وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ۝١٨

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”
(QS. Adz-Dzariyat: 18)

Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu ciri orang bertakwa adalah memperbanyak istighfar di waktu sahur.

6. Memperbanyak doa pada sepertiga malam terakhir

Memanfaatkan waktu turunnya rahmat dan pengabulan doa.

Dalil:

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ 

“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan…”
Shahih al-Bukhari (VIII/197) Kitaabut Tauhiid dan Shahih Muslim (I/521) kitab Shalaatul Musaafiriin.

Waktu sahur termasuk dalam sepertiga malam terakhir yang penuh keutamaan.

7. Membaca Al-Qur’an setelah sahur

Waktu malam lebih menghadirkan kekhusyukan dan kedalaman tadabbur.

Dalil: 

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ ۝٦

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”
(QS. Al-Muzzammil: 6)

Hadis Zaid bin Tsabit tentang jarak “lima puluh ayat” juga mengisyaratkan bahwa waktu menjelang Subuh biasa diisi dengan bacaan Al-Qur’an.

8. Tidak berlebihan dalam makan

Agar ibadah puasa dan shalat Subuh tetap optimal.

Dalil:

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ الْآدَمِيِّ، لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ غَلَبَتِ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ، فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ، وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ، وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ

Tidak ada wadah yang lebih buruk yang dipenuhi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.” (HR. Tirmidzi, no. 2380

Prinsip ini berlaku pula saat sahur agar ibadah tetap ringan dan penuh kekhusyukan. Sahur yang sederhana, tidak berlebihan, justru membuka ruang lebih luas untuk doa, istighfar, dan kepedulian terhadap sesama.

Bayangkan jika dari meja sahur kita, ada hak orang lain yang ikut terpenuhi. Dari makanan yang kita nikmati, ada sebagian rezeki yang mengalir menjadi keberkahan bagi mereka yang membutuhkan. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang merasakan dan meringankan lapar orang lain.

Di momen penuh keberkahan ini, mari perluas makna sahur dengan berbagi. Melalui Sebi Social Fund, setiap sedekah yang dititipkan menjadi bagian dari gerakan kebaikan—menghadirkan bantuan pangan, dukungan pendidikan, dan program pemberdayaan bagi yang membutuhkan.

Jadikan sahur kita bukan hanya penguat tubuh, tetapi juga penguat empati. Sisihkan sebagian rezeki terbaikmu hari ini, niatkan sebagai amal jariyah, dan biarkan keberkahannya bertumbuh bersama doa-doa di waktu sahur.

Karena sahur yang paling indah bukan hanya yang mengenyangkan diri, tetapi yang menghadirkan harapan bagi sesama.

 

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top