Tulisan ini mengulas secara komprehensif tentang pengertian Malam Lailatul Qadar, waktu terjadinya, tanda-tandanya, amalan yang dianjurkan, serta berbagai keutamaannya dalam perspektif Al-Qur’an dan hadits. Mari kita pahami bersama!
Di antara seluruh malam dalam bulan Ramadan, terdapat satu malam yang kedudukannya melampaui malam-malam lainnya, yaitu Malam Lailatul Qadar. Malam ini disebut secara khusus dalam Al-Qur’an sebagai malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, kaum muslimin dianjurkan untuk bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan demi meraih kemuliaannya.
Apa sebenarnya makna Lailatul Qadar? Kapan terjadinya? Apa saja tanda dan amalan yang dianjurkan? Berikut pembahasan lengkapnya.
Pengertian Malam Lailatul Qadar
Secara etimologis, istilah “Lailatul Qadar” berasal dari kata “lailah” yang berarti malam dan “qadar” yang bermakna ketetapan, ukuran, atau kemuliaan. Para ulama menafsirkan bahwa malam ini adalah waktu Allah menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan, sekaligus malam yang dimuliakan karena turunnya Al-Qur’an.
Dalam Surah Al-Qadr ayat 3 ditegaskan bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besar nilai ibadah pada malam itu, melebihi ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.
Makna Lailatul Qadar dalam Al-Qur’an
Terdapat beberapa penafsiran mengenai makna Lailatul Qadar.
Pertama, sebagai malam penetapan. Dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3 disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang diberkahi.
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ ٣
Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan. (Q.S.Addukhan:3)
Para mufassir menjelaskan bahwa pada malam tersebut Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi hamba-Nya.
Kedua, sebagai malam kemuliaan. Malam ini dimuliakan karena menjadi momentum awal turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup manusia. Peristiwa agung ini menjadikan Lailatul Qadar memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam.
Ketiga, dimaknai sebagai malam yang “sempit”, yaitu karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi membawa rahmat dan keberkahan. Dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5 dijelaskan bahwa para malaikat dan Ruh (Jibril) turun dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan hingga terbit fajar.
Waktu Terjadinya Lailatul Qadar
Tidak ada kepastian tanggal mengenai terjadinya Lailatul Qadar. Hikmah dirahasiakannya waktu tersebut agar umat Islam terus beribadah secara konsisten, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Rasulullah SAW menganjurkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir. Oleh sebab itu, malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 sering dijadikan momentum untuk meningkatkan intensitas ibadah, termasuk dengan melakukan i’tikaf di masjid.
Hadits Ubadah bin Ash Shamit Radhiyallahu anhu, ia berkata:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِيْ الْعَشْرِ الْبَوَاقِيْ, مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ, وَهِيَ لَيْلَةُ وِتْرٍ, تِسْعٌ أَوْ سَبْعٌ أَوْ خَامِسَةٌ أَوْ ثَالِثَةٌ أَوْ آخِرُ لَيْلَةٍ, وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ َ: إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيْهَا قَمَراً سَاطِعاً سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ, لاَ بَرْدَ فِيْهَا وَلاَ حَرَّ, وَلاَ يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيْهَا حَتَّى تُصْبِحَ, وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيْحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً, لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ, وَلاَ يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ.
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul Qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir. Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan,” dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadr adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu“
Selain itu, Kiai Muiz juga merujuk pada beberapa hadis yang menjelaskan tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar. Salah satu hadis yang terkenal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab, yang mengatakan:
هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.
“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru” (HR. Muslim no. 762, dari Ubay bin Ka’ab).
Amalan yang Dianjurkan
Menghidupkan Lailatul Qadar berarti memaksimalkan ibadah pada malam tersebut. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain sholat malam, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, istighfar, serta memperpanjang doa.
Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus untuk dibaca ketika berharap bertemu Lailatul Qadar, yakni doa memohon ampunan kepada Allah SWT. Momentum ini menjadi kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada-Nya.
Selain ibadah yang bersifat personal, memperluas kebaikan sosial seperti bersedekah dan membantu sesama juga menjadi amalan bernilai tinggi pada malam tersebut.
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Lailatul Qadar memiliki sejumlah keutamaan yang menjadikannya malam paling agung dalam setahun.
- Nilai Ibadah yang Melampaui Seribu Bulan
Setiap amal kebaikan yang dilakukan pada malam itu memiliki ganjaran yang luar biasa besar. - Momentum Turunnya Al-Qur’an
Malam ini menjadi saksi awal diturunkannya wahyu sebagai pedoman hidup umat manusia. - Penuh Keberkahan dan Keselamatan
Allah melimpahkan kesejahteraan hingga terbitnya fajar, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr. - Turunnya Para Malaikat
Para malaikat turun membawa rahmat dan ketetapan atas izin Allah SWT. - Pengampunan Dosa
Dalam hadits disebutkan bahwa siapa yang menghidupkan malam tersebut dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Sebagai puncak spiritual Ramadan, Lailatul Qadar mengajarkan bahwa kualitas ibadah lebih utama daripada kuantitas waktu. Di malam yang nilainya melampaui seribu bulan itu, setiap doa, sujud, dan kebaikan memiliki bobot yang berlipat ganda. Karena itu, selain memperbanyak ibadah pribadi, menghadirkan manfaat bagi sesama juga menjadi bagian dari upaya meraih keberkahan. Melalui Sebi Social Fund, partisipasi dalam program pendidikan dan kemanusiaan dapat menjadi bentuk nyata amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah Ramadan berlalu.
Referensi :
- Al‑Qur’an. (2002). Surah Ad‑Dukhan (44:3). Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.
- Bukhari, M. I. (1997). Sahih al‑Bukhari. Jakarta: Pustaka Al‑Kautsar.
- Muslim, I. (1997). Sahih Muslim. Jakarta: Pustaka Al‑Kautsar.
- Tirmidzi, A. (1997). Jami’ at‑Tirmidzi. Jakarta: Pustaka Al‑Kautsar.
- “Lailatul Qadar, Makna dan Dimensi Spiritualitasnya.” (2020). Al‑Kamal: Jurnal Studi Islam, 3(1).
- Yaqeen Institute for Islamic Research. (n.d.). Why Laylatul Qadr?

