Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah kehidupan—melatih disiplin, kesabaran, keseimbangan fisik, dan ketundukan spiritual. Di antara rangkaian ibadah puasa, terdapat dua momen yang sering dianggap sederhana, namun justru menyimpan keberkahan besar: sahur dan berbuka.
Keduanya bukan hanya rutinitas biologis, melainkan bagian dari sunnah yang memiliki nilai ibadah dan hikmah kesehatan sekaligus.
Sahur: Keberkahan di Ujung Malam
Sahur adalah makan atau minum pada akhir malam sebelum terbit fajar sebagai persiapan berpuasa. Para ulama sepakat bahwa hukumnya sunnah muakkadah—sangat dianjurkan.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam Sahih Bukhari:
«تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً»
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”
Keberkahan ini bersifat multidimensional:
-
Spiritual: mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
-
Fikih: menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan puasa ahli kitab.
-
Fisik: memperkuat tubuh menjalani puasa seharian.
Al-Qur’an juga mengisyaratkan kemuliaan waktu sahur dalam QS. Adz-Dzariyat: 18:
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”
Artinya, sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum subuh. Ia adalah waktu istighfar, doa, dan kedekatan dengan Allah.
Secara medis, sahur membantu menjaga stabilitas gula darah, mencegah dehidrasi, dan mempertahankan konsentrasi. Karena itu, dianjurkan untuk mengakhirkan sahur mendekati waktu subuh serta memilih makanan bergizi seimbang.
Tidak bersahur tidak membatalkan puasa, tetapi seorang Muslim kehilangan keberkahan sunnah yang besar.
Berbuka: Menyegerakan Kebaikan
Berbuka dilakukan saat matahari terbenam dan hukumnya wajib bagi orang yang berpuasa. Sunnahnya adalah menyegerakan berbuka ketika waktu maghrib tiba.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam Sahih Muslim:
«لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ»
“Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang. Puasa bukanlah ajaran yang menghendaki kesulitan berlebihan. Justru, kepatuhan pada waktu berbuka mencerminkan ketundukan terhadap aturan Allah.
Rasulullah ﷺ biasa berbuka dengan ruthab (kurma basah) atau air. Secara kesehatan, kurma membantu mengembalikan energi dengan cepat tanpa lonjakan gula darah ekstrem, sekaligus mempersiapkan tubuh menerima makanan berikutnya.
Menghindari makan berlebihan juga penting agar ibadah malam—tarawih, tadarus, dan qiyam—tetap optimal.
Siapa yang Mendapat Keringanan?
Islam tidak memaksakan ibadah hingga membahayakan diri. Dalam QS. Al-Baqarah: 184–185 dijelaskan adanya rukhsah (keringanan) bagi orang sakit, musafir, lansia lemah, serta ibu hamil atau menyusui dengan kondisi tertentu.
Prinsip ini juga ditegaskan dalam berbagai fatwa Majelis Ulama Indonesia bahwa puasa tidak dimaksudkan untuk mencelakakan diri. Syariat selalu berjalan seiring kemaslahatan.
Hikmah Spiritual dan Kesehatan
Sahur dan berbuka membentuk pola hidup yang terstruktur:
Hikmah spiritual:
-
Melatih disiplin waktu.
-
Menghidupkan sunnah Nabi ﷺ.
-
Menguatkan rasa syukur.
-
Menghidupkan malam dengan istighfar dan doa.
Hikmah kesehatan:
-
Menjaga metabolisme tetap stabil.
-
Mengontrol pola makan.
-
Mengurangi kebiasaan konsumsi berlebihan.
-
Membentuk ritme hidup lebih teratur.
Puasa dalam Islam bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sistem pendidikan jasmani dan ruhani yang terintegrasi. Sahur dan berbuka adalah dua sisi yang melengkapi ibadah puasa. Sahur menguatkan sebelum perjuangan dimulai, sementara berbuka menghadirkan rasa syukur setelah kesabaran dijalani.
Setiap suapan saat sahur dan setiap tegukan saat berbuka dapat bernilai ibadah ketika diniatkan karena Allah. Ramadhan mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu terletak pada banyaknya makanan, tetapi pada ketaatan dan kesadaran dalam menjalaninya.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menghidupkan sahur dengan istighfar dan menyambut berbuka dengan syukur.

